Khalifah dan Kemanusiaan

4 komentar
Kiprah khalifah dalam kemanusiaan
Para Ahmadi yang tergabung dalam Humanity Firrst memberikan bantuan bagi korban bencana di Filipina. Foto: humanityfirst.org

Khalifah sebagai seorang pemimpin mempunyai andil besar dalam menentukan arah Jamaahnya. Khalifah yang ditaati dan dicintai pengikutnya selalu mengedepankan agama dan kemanusiaan dalam mengambil kebijakan. Salah satunya adalah Khalifatul Masih V atba, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad yang telah memberikan bimbingan-bimbingan sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam kemanusiaan.

Beberapa Arahan Khalifah mengenai kemanusiaan

Khalifatul Masih V atba menjelaskan berkenaan dengan kemanusiaan. Beliau mengutip sabda Hadhrat Masih Mau'ud a.s;

Menguraikan pengertian 'al-insaniyyat' (kemanusiaan), apa saja tolok ukur-tolok ukurnya dan bagaimana hendaknya seorang beriman mewarnai diri dengannya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, "Kata 'al-insaan' telah diturunkan dari kata "unsaan' (dua jenis hubungan, keterikatan atau kecintaan). Maka dari itu, seseorang harus memiliki dua jenis hubungan yang benar; pertama dengan Allah Ta’ala dan yang kedua simpati dengan umat manusia.

Dia disebut insaan (manusia) pada saat kedua jenis kecintaan ini diciptakan dalam dirinya. Ini adalah apa yang disebut inti seorang manusia. Ini adalah apa yang disebut hakekat kemanusiaan yang menciptakan dua jenis hubungan. (Artinya, kalian harus menciptakan hubungan dengan Allah dan memenuhi hak-hak sesama manusia.).

Kita melakukan suatu khidmat insaniyyat (pengkhidmatan kemanusiaan), kita menablighkan atau menyebarkan Islam, karena kita menaruh rasa cinta terhadap setiap orang dan kita menghapuskan benih-benih kebencian serta ingin menanamkan pohon kecintaan dan kasih-sayang, sebab itulah yang diajarkan oleh Junjungan kita Muhammad Rasulullah saw kepada kita.

Khalifatul Masih V atba menjelaskan agar kita bisa melakukan pengkhidmatan kemanusiaan dengan sebaik-baiknya, maka kita hendaknya meniru akhlak junjungan kita, Rasulullah saw. Hadhrat Khalifah menjelaskan,

Jika setiap orang Ahmadi ingin memahami makna sejati dari “love for all”, kita harus belajar caranya dari Junjungan dan Muhsin insaniyat kita, Baginda Nabi Muhammad saw; dan hal itu dapat kita laksanakan apabila kita mempunyai pengertian sejati tentang Tauhid Ilahi. Kemudian kita melihat sebuah contoh lain ghairah simpati beliau, apabila orang-orang sudah melampaui batas dalam kezaliman dan kekejaman terhadap beliau, maka beliau bukan berdoa untuk kehancuran mereka, melainkan bersamaan dengan mengangkat kedua belah tengan beliau berdoa, “Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku, sebab mereka tidak tahu apa yang sedang saya katakan adalah demi faedah mereka.” Apabila kabilah lain melakukan kejahatan kepada beliau dan beliau diminta untuk berdoa buruk bagi mereka, maka beliau berdoa untuk kebaikan mereka, bukan untuk kehancuran mereka. Misalnya beliau berdoa untuk suatu kabilah bernama Daus sambil mengangkat kedua belah tangan beliau berdoa,”Allahummahdi dausan wa-ti bihim ” Yaa Allah! Berilah petunjuk kepada Kabilah Daus!”

Pendeknya, kecintaan dan kasih-sayang serta simpati beliau bukan hanya terhadap umat beliau sendiri. Kecintaan dan simpati beliau semata-mata untuk menegakkan Tauhid Ilahi supaya dunia selamat dari kebinasaan.

Apa yang harus kita perhatikan sekali adalah, bahwa khidmat insaniyat ini (pengkhidmatan kemanusiaan) dilakukan semata-mata demi meraih ridha Allah Ta’ala. Karena ada perintah Allah Ta’ala untuk memenuhi hak-hak sesama manusia, maka sesuai dengan itu kita melakukan pengkhidmatan kemanusiaan ini. Demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, hubungan kita dengan-Nya dan ibadah kepada-Nya juga harus kita pelihara. Tanpa itu semua khidmat kemanusiaan kita sedikit pun tidak mengandung faedah.

Hadhrat Khalifah menginstruksikan kepada para pengikutnya agar senantiasa mempunyai rasa solidaritas terhadap sesama. Beliau menyampaikan,

Jadi, kini senantiasa seperti semula merupakan kewajiban Jemaat Ahmadiyah - yang di dalamnya terdapat rasa solidaritas terhadap kemanusiaan - supaya berdoa untuk menyelamatkan ummat manusia dan perbanyaklah berdoa supaya dunia mengenal Tuhannya, dan sampai sebatas mana dapat terhindar dari kehancuran ummat manusia dapat terhindar.

Jemaat Ahmadiyah didirikan oleh Allah Ta’ala demi tujuan menjadi Jemaat yang anggotanya merupakan para pengkhidmat dan orang-orang dermawan. Mereka mengikuti jejak Rasulullah saw. Mereka para Jemaat Masih Mau’ud dan Imam Mahdi a.s. yang mana janji dibebankan di pundaknya tanggung jawab kemenangan Islam di dunia, yaitu mengorbankan harta kekayaan untuk mengkhidmati agama dan mengkhidmati kemanusiaan sejak 128 tahun lalu. Hal demikian karena Hadhrat Masih Mau’ud as telah mendirikan Jemaat dengan pengertian infaq secara shahih dan pengorbanan dengan harta demi terang ajaran Al-Qur’an.

Maka adalah kewajiban setiap orang Ahmadi untuk mengkhidmati umat manusia atas dasar sikap seperti itu. Dengan karunia Allah Ta’ala banyak orang Ahmadi berkhidmat berdasarkan perasaan itu, mereka sedang melakukannya. Tidak diragukan lagi, mereka adalah muhsin namun mereka bukan orang yang menyebut-nyebut kebaikan mereka. Golongan muhsin bukanlah mereka yang membesar-besarkan kebaikan mereka. Sebab, jika membesar-besarkan kebaikan berarti akan tidak menampakkan ketakwaan dan akhlak yang baik. Ketakwaan ialah setelah melakukan ihsan (kebaikan) kemudian tanpa membesar-besarkan kebaikan mereka.

Islam mengajarkan demikian, “Penuhilah hak-hak orang lain! Sebelum menuntut dari orang lain agar memenuhi hak diri sendiri penuhilah hak-haknya terlebih dahulu! Bahkan, berbuat ihsan kepadanya untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan membuatnya digolongkan sebagai muhsinin. Selalu lebih ingatlah akan kebutuhan-kebutuhan mereka.” Contohnya mengenai para pekerja, mengenai para pembantu di dalam hadits disebutkan, “Berilah mereka pakaian sebagaimana yang engkau pakai dan berilah makan kepada para pekerja engkau sesuai dengan apa yang engkau makan.”

Semoga Allah Ta’ala menjadikan demikian bahwa kita menjadi orang-orang yang meraih standar itu, mendapatkan keberkahan itu, menjadi orang-orang yang mendatangkan keberkahan [bagi orang lain] dan kita diselamatkan dai para penentang. Dan semoga pula perbuatan buruk para penentang berbalik menerjang diri mereka. Dan bilamana keadaan ini telah terjadi maka saat itulah kita akan menerima kecintaan Ilahi, kita akan menjadi pengkhidmat kemanusiaan yang murni (tanpa pamrih), menjadi penyampai pesan [ajaran] Islam ke seluruh dunia, maka kita pun insya Allah akan dapat menyaksikan cengkeraman hukuman Allah bagi para penentang. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk dapat banyak berdoa demikian dan memperoleh standar kemuliaan tersebut.

Kiprah Khalifah dalam kemanusiaan

Hadhrat Khalifah telah membentuk organisasi kemanusiaan, beberapa rumah sakit, menjadikan dokter-dokter dan para Ahmadi untuk berkhidmat demi Kemanusiaan. Beliau bersabda,

Sesungguhnya dokter-dokter kita (para dokter Ahmadi) juga memainkan peran untuk berbakti kepada sesama. Melalui pengkhidmatan itu mereka senang dan berbahagia karena telah membaktikan waktu yang sangat lama untuk tujuan ini dan mereka berbakti pada kemanusiaan. Demikian pula para insinyur kita pergi ke Negaranegara Afrika dan sebagian di antaranya bekerja di sana terkadang delapan belas jam terus-menerus dengan segala kebahagiaan. Setelah menyelesaikan pekerjaan itu mereka bersedia juga untuk bekerja pada hari berikutnya. Jika mereka tidak berbahagia tentu mereka takkan bersedia bekerja pada bidang ini.

Jemaat, dengan perantaraan Humanity First, sebuah lembaga bantuan kemanusiaan yang relawannya sebagian besar merupakan warga Jemaat Ahmadiyah, bahkan 99 persen adalah warga Jemaat Ahmadiyah tengah melakukan pengkhidmatan kemanusiaan. Bantuan yang diberikan berupa uang tunai, pakaian atau bantuan barang-barang lainnya yang dibutuhkan di wilayah itu. Pada awalnya pemerintah mempercayakan sedikit pekerjaan pada mereka, tapi kini pemerintah memiliki keinginan untuk memberikan tanggung jawab yang lebih besar supaya disana didirikan pusat baru di mana Humanity First membantu mereka. Walhasil, sesuai dengan sarana kita yang ada, sejauh mana bisa dilakukan kita akan lakukan, karena kerugian yang diderita akibat gempa, penderitaan yang menimpa orang-orang, akibatnya banyak sekali orang yang menderita trauma kejiwaan.

Kemudian pada tahun 2005, akibat badai samudera di Amerika telah terjadi kehancuran yang sangat dahsyat. Begitu pula di negara-negara lainnya akibat banjir dan lainlainnya telah menimbulkan berbagai kehancuran, termasuk di Diayana dan lain-lainnya. Di tempat-tempat itu pun Humanity First banyak memberikan bantuan dan dimanapun juga orang-orang Ahmadi bekerja, karena mereka melakukan tugas dengan tekun, pekerjaan mereka mendapat penghargaan. Namun, ini merupakan masalah kemanusiaan maka merupakan tanggung jawab kita untuk melakukan pengkhidmatan kemanusiaan dan kita tidak akan meminta balasan dari siapapun, ini merupakan hal yang berkaitan dengan tanggung jawab kita dan termasuk di dalam tanggung jawab kita.

Jemaat Ahmadiyah menolong orang bukan karena melihat dia miskin melainkan pertolongan diberikan melalui berbagai proyek agar mereka bisa berdikari di atas kaki mereka sendiri. Sekalipun sangat banyak memberi pertolongan berupa berbagai macam proyek kemanusiaan tanpa pamrih, Jemaat Ahmadiyah tetap bersikap merendahkan diri, dan hal itu bukanlah perkara kecil. Selama Jalsah berlangsung kami tidak pernah mendengar suatu keluhan apapun dan tidak pula kami melihat muka orang yang tidak cerah ceria melainkan selalu bermuka manis dan senyum. Lagi pula kami tidak pernah mendengar orang yang berbicara dengan suara keras. Setiap relawan melaksanakan tugas mereka dengan semangat penuh dedikasi. Sekalipun pekerjaan yang mereka lakukan sangat berat namun mereka tetap selalu bermuka ceria dengan senyuman. Setiap petugas selalu berusaha membuat para tamu yang tinggal di Lokasi Jamiah Ahmadiyah seperti tinggal di rumah mereka sendiri.”

 

Catatan Kaki:

     

    Berita-Berita Intern dan Sosial-Kemanusiaan:

     

    Baca Juga:

    (1) Ahmadiyah.id - Khilafat

    (2) Ahmadiyah.id - Khilafah

    (3) Alislam.org - Khilafat

    (4) Ahmadiyah.id - 112 tahun Khilafat

     

    Tag:

    #Khalifah, #Ahmadiyah, #Mirza Masroor Ahmad, #KhalifahAhmadiyah, #KhalifahIslam, #ImamMahdi, #Perdamaian

     

    Related Posts

    4 komentar

    1. Islam yang ditampilkan oleh Ahmadiyah adalah islam yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW

      BalasHapus
      Balasan
      1. Saya setuju. Jazakumullah sudah mampir :)

        Hapus
    2. Khalifah yg rahmatan lilaalamiin..

      BalasHapus
      Balasan
      1. Khalifah itu meneruskan missi pendahulunya, yaitu Rasulullah saw san Al-Masih Al-Mau'ud. Mereka membawa missi ketauhidan dan kemanusiaan

        Hapus

    Posting Komentar